Kamis, 02 Juli 2009

10 Kebiasaan Muslim Yang Sukses


Hidup ini dikendalikan oleh oleh berbagai kebiasaan, baik atau buruk. Kita harus bisa memantapkan kebiasaan-kebiasaan baik dalam diri kita, dan melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita.
Kebiasaan adalah sesuatu yang rutin kita jalankan baik berupa sesuatu yang riil (pergi ke tempat tertentu, makan makanan tertentu,dll) maupun berupa pandangan, pola piker atau perasaan kejiwaan (menghormati orang lain, perasaan terhadap harga diri, kehormatan, menghormati tamu, dll)
Kebiasaan terjadi karena tiga factor yang saling berkait, yaitu: Pengetahuan (pengetahuan secara teoritik tentang sesuatu yang perlu dikerjakan), Motivasi (dorongan dan kecenderungan jiwa untuk melakukan hal itu) dan Skill (kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu). Kemampuan membangun kebiasaan baru adalah hal yang luar biasa. Sebaliknya, kemampuan meninggalkan kebiasaan lama yang tidak bermanfaat termasuk kemampuan yang paling bernilai dan terpenting dalam kehidupan manusia.



Kenalilah Kebiasaan Anda dalam Pekerjaan!

Empat kebiasaan saya yang paling baik dalam pekerjaan?
No Kebiasaan Hasilnya dalam Pekerjaan Saya







Empat kebiasaan saya yang paling buruk dalam pekerjaan
No Kebiasaan Hasilnya dalam Pekerjaan Saya







Kenalilah Kebiasaan Anda dalam Kehidupan Pribadi!

Empat kebiasaan saya yang paling baik dalam kehidupan pribadi saya?
No Kebiasaan Hasilnya dalam Pekerjaan Saya









Empat kebiasaan saya yang paling buruk dalam kehidupan pribadi saya?
No Kebiasaan Hasilnya dalam Pekerjaan Saya








Kebiasaan Pertama
SEMANGAT MENCAPAI PUNCAK PRESTASI

Yaitu usaha secara konsisten dan terus-menerus untuk merealisasikan puncak prestasi dalam hidup. Ini berarti terus melakukan pengembangan diri dan meningkat kualitas iman, akhlak dan hubungan social, kemudian menggunakannya untuk mewujudkan misi hdup anda.
Prinsip: Pertama, secara konsisten meningkatkan kualitas iman anda
Kedua, secara konsisten meningkatkan kualitas kerja, keahlian, produktivitas dan profesionalisme anda
Ketiga, secara konsisten meningkatkan kualitas hubungan positif anda dengan orang lain
Dalam mencapai semangat ini, harus berkaitan dengan iman dalam bentuk hubungan yang kuat dan permanen antara hamba dengan Alloh ta’ala. Semakin meningkat kualitas iman hingga mencapai derajatnya yang tinggi, maka semakin efektif mewujudkan misi hidup. Kadang grafiknya naik disebabkan ilmu dan ibadah, tapi kadang turun karena kelalaian dan sikap meremehkan. Inti kebiasaan semangat mencapai puncak prestasi adalah penunjuk grafik itu harus bergerak naik, dan mencari metode serta cara yang menjaga gerakan konstan grafik itu agar terus naik dari bawah ke atas.
Manusia harus memiliki misi hidup karena tidak akan ada semangat mencapai puncak prestasi jika tidak ada pandangan yang jelas tentang tujuan besar hidupnya, yang karenanya manusia ingin tetap bertahan hidup. Misi adalah kata-kata bijak dan nilai-nilai prinsip yang kita ingin hidup dengannya. Membangun pandangan yang jelas dan lurus serta misi hidup yang benar merupakan permulaan sesungguhnya untuk merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Tapi permulaan ini memerlukan kebiasaan lain untuk mewujudkan dan mengubahnya dari tingkat pemahaman dan nilai-nilai teoritis kepada kenyataan dan kehidupan riil.

Karakter Misi Hidup yang Baik
1. misi hidup harus mencerminkan nilai-nilai Islam yang prinsip.
2. harus mencerminkan perhatian-perhatian anda, skala prioritas dalam kapasitas pribadi, keluarga dan sosial, juga perhatian-perhatian kita dalam tugas dan pekerjaan.
3. misi hidup harus jelas dan ringkas, tidak ruwet dan mengandung banyak interpretasi.
4. harus singkat, supaya gampang dimengerti dan diingat, bisa satu/beberapa kalimat.
5. harus anda sendiri yang menyusun, tidak boleh minta bantuan kepada oranglain.
6. harus mencerminkan prinsip semangat mencapai puncak prestasi.

Tulislah Misi Hidup Anda
………………………………………………………………………………………………………………………………..………………………………………………………………………………………………………………………………..………………………………………………………………………………………………………………………………..…………………………………………………………………………………………………




Kebiasaan Kedua
MENENTUKAN TUJUAN

Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai seseorang. Tujuan yang ingin dicapai itu ditentukan berdasarkan pandangan seseorang dalam melihat kedudukan dirinya, obsesinya, kemampuannya, perhatiannya, pendidikannya dan pola pikirnya.

Jenis-jenis Tujuan Berdasarkan Sumbernya
Tujuan dibagi menjadi tiga sumber utama:
1. Pencipta alam semesta dan Rabb segenap hamba,
Dalam hal ini tujuan-tujuan ilahiah yang diletakkan Alloh untuk masalah ibadah dan khilafah bagi hambaNya dengan metode dan cara sebagaimana Al Qur’an dan Sunnah.
2. Masyarakat,
Dirumuskan tujuan-tujuan sosial yang dikehendaki oleh masyarakat di setiap tempat dan masa dalam menutupi kebutuhan dan keinginan dibidang politik, ekonomi, budaya maupun kehidupan social. Tujuan kemasyarakatan itu hendaklah merupakan penerjemahan dari tujuan-tujuan ilahiah, tidak boleh ada kontradiksi antara keduanya.
3. Individu,
Tujuan individu ditetapkan oleh seseorang untuk menutupi kebutuhan, perhatian dan harapan-harapannya yang bermacam-macam, baik bidang sosial, ekonomi, budaya maupun politik.
Banyak dari kita yang mengambil banyak peran tertentu dalam hidup, namun kita harus memiliki tujuan-tujuan pribadi untuk memaksimalkan peran-peran itu. Hal itu penting agar:
1. menentukan tanggung jawab dan kewajiban kita dalam kehidupan
2. menjalankan tanggung jawab dan kewajiban tersebut secara sempurna
3. menentukan skala prioritas, hal-hal yang penting dan mendesak
4. bekerja secara prestatif dan professional
5. mencapai kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan izin Allah
Ingatlah, berbeda antara tujuan dengan angan-angan. Angan-angan adalah perkara yang ingin dicapai seseorang, tapi ia tidak meletakkan program teknis untuk mencapainya. Sedang tujuan adalah perkara yang sudah dirancang untuk dilaksanakan dalam bentuk program teknis sehingga seseorang dapat mencapai maksudnya.

Jenis-jenis Tujuan ditinjau dari Masanya
Ada tiga jenis tujuan, yaitu: - tujuan yang bersifat umum
- tujuan yang bersifat periodik
- tujuan yang bersifat praktis
Tujuan umum adalah ungkapan dari keinginan, niat, angan-angan atau pandangan yang memuaskan seseorang. Sedang tujuan praktis adalah pekerjaan tertentu yang realisasinya, evaluasi dan indicator keberhasilannya terukur. Tujuan periodik adalah tujuan yang berada diantara tujuan umum dan tujuan praktis. Tujuan periodik biasanya berkaitan dengan masa, skala prioritas atau langkah-langkah penting yang harus terus dikontrol.


Read More...

Kamis, 18 Juni 2009

Eksistensi Pemuda Islam

Tak dapat disangkal lagi bahwa eksistensi pemuda Islam dalam kehidupan amat penting, karena merekalah yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan sejarah umat manusia pada umumnya.Semua ideologi yang berorientasi pada strategi revolusi, menganggap pemuda sebagai tenaga paling revolusioner karena secara psikologis manusia mencapai puncak hamasah (gelora semgangat) dan quwwatul jasad (kekuatan fisik) pada usia muda.Hal tersebut menumbuhkan semangat pergerakan, perubahan, bukan stagnasi ataupun status quo.Dalam setiap kurun waktu, kemarin, kini dan esok, pemuda senantiasa berdiri di garis terdepan.Baik sebagai pembela kebenaran yang gigih ataupun sebagai pembela kebatilan yang canggih.

Di dalam al-Qur’an peran pemuda diungkapkan dalam kisah Ashabul Kahfi [18:19-22], kisah pemuda Ibrahim [21:60,69 dan 2:258] dan pemuda yang dibunuh oleh Ashabul Uhdud [lihat tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Buruuj] dan para Assabiqunal Awwalun pada umumnya berusia muda.
Pentingnya memanfaatkan masa muda digambarkan dalam hadits Rasulullah SAW sbb:”Manfaatkanlah yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; masa kayamu sebelum datang masa miskinmu; masa hidupmu sebelum datang masa matimu; masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.” [HR. al-Baihaqi]
Bagaimana potensi pemuda itu dapat dikembangkan dalam bingkai Islam? Setidaknya mereka dituntut melaksanakan sepuluh risalahnya:

1.Memahami Islam
Mustahil pemuda dapat memuliakan Islam kalau mereka sendiri tidak memahami Islam [35:28, 58:11].
“Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikan dalam agama.” [HR. Bukhari-Muslim]
“Dunia ini terkutuk dan segala isinya terkutuk kecuali dzikrullah dan yang serupa itu dan orang alim dan penuntut ilmu.” [HR.At-Tirmizi]


2.Mengimani segenap ajaran Islam
Iman kepada Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental patuh dan tunduk [23:51].Tunduk patuh berlandaskan cinta kepada-Nya [2:165] dan ittiba’ (mengikuti) Rasul-Nya [3:31, 53-3-4].

3.Mengamalkan dan mendakwahkan Islam
Ciri orang yang tidak mengalami kerugian (khusrin) dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam [103:1-3; 41:33; 3:110; 9:71; 5:78-79].
“Barangsiapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan dengan orang yang mengerjakannya.” [HR.Muslim]

4.Berjihad di jalan Islam
Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin.Said Hawa membagi jihad menjadi lima macam:
•Jihad lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik dan fasiq
yang disertai dengan hujjah (argumentasi) yang dicontohkan oleh Nabi SAW [5:62].
•Jihad maali atau jihad dengan harta [49:15; 9:111].Jihad dengan harta merupakan
bagian vital bagi jihad yang lainnya, karena dakwah memerlukan sarana dan prasarana.
•Jihad bilyad wan nafs atau jihad dengan tangan /kekuasaan dan jiwa [22:39, 2:190,
8:39, 9:36].Termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir, usaha
mempertahankan diri terhadap serangan mereka, berusaha mengusir mereka dari bumi
Islam, memerangi kaum murtad dalam negeri Islam, melawan pemberontak atau
pembangkang atas negara Islam.
•Jihad siyaasi atau jihad politik.
•Jihad tarbawi/ta’limi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam [3:79].

5.Sabar dan istiqomah di atas jalan Islam [21:83-85, 38:41-44, 37:100-107, 21:68-69, 71:5-9].
Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqomah.”Keyakinan dalam iman haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman.” [HR. Abu Nu’aim].

6.Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam
Pemuda seharusnya berperan dalam menjalin ukhuwah Islamiyah sesama muslim [8:63, 59:9]. “Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, antara satu dengan yang lain saling mengokohkan.” [Al-Hadits]

7.Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam
Potensi umat Islam perlu diarahkan ke dalam amal jama’i secara efektif dan efisien [3:146]

8.Optimis terhadap masa depan Islam
Pemuda Islam tak boleh memiliki jiwa pesimis.Sebaliknya harus optimis akan hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah SWT.Hanya orang kafirlah yang memiliki sifat pesimis [12:87, 15:56].

9.Introspeksi diri (muhasabah) terhadap segala aktifitas yang telah dilakukan
Introspeksi dan evaluasi dimaksudkan agar pemuda tidak mengulang kesalahan yang sama di hari mendatang, tidak terjebak dengan permasalahan yang sama dan mampu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik [13:11].
“Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap dengan amal sebagai bekal untuk mati.” [HR.At-Tirmizi].

10.Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam
Memurnikan niat karena Allah dalam ibadah dan jihad merupakan masalah fundamental agar amal itu diterima sekaligus sukses.
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya karena orang-orang yang lemah di antara mereka yaitu dengan dakwah, shalat dan ikhlas mereka.” [HR. An-Nasai dari Sa’ad bin Abi Waqash]


REFERENSI
Majalah Islam “Sabili”, No.33/11 Januari 1991
Husni Adham Jarror, Bercinta dan Bersaudara karena Allah, GIP
Dr.Muh.Ibrahim An-Nashr, Dr.Yusuf Al-Qardhawi dan Said Hawa, Berjuang di jalan Allah, GIP


Read More...

ADAB AT-TAHADDUTS WA AL-ISTIMA’( Berbicara dan Mendengar)

Islam adalah diin al-adab, atau agama yang mengajarkan norma-norma luhur dan suci bagi umat manusia. Seorang mukmin yang menjadikan dirinya sebagai kendali diri dalam berbuat dan berbicara, akan menikmati saat-saat diamnya, sementara orang lain pun merasa sejuk berdekatan dengannya.
Ketika ia berbicara, manisnya kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat orang yang mendengarnya sadar dan terbimbing kepada kebaikan dan kebenaran. Demikian juga tatkala ia berbuat sesuatu, maka perbuatannya selalu baik, memberi manfaat, dan dapat menjadi keteladanan bagi yang lain. Mukmin seperti ini adalah mukmin yang memiliki sifat-sifat yang dekat kepada Rasulullah saw. yang mulia, di mana diamnya adalah fikir, ucapannya adalah dzikir, dan amalnya adalah keteladanan.

ADAB AT-TAHADDUTS

1. Berbicara yang jelas, mudah difahami oleh setiap pendengar.
Dari ‘Aisyah ra. Berkata:
كَانَ كَلاَمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَلاَمًا فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ . رواه أبو داود و أحمد
Adalah ucapan Rasulullah saw. selalu jelas maksudnya dan dipahami oleh setiap orang yang mendengarkannya. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Dari ‘Aisyah ra. juga berkata: “Bahwa Rasulullah saw, pernah berbicara, sekiranya ada yang menghitung ucapannya pasti terhitung.” Dan dalam riwayat lain: “Beliau tidak mengeluarkan ucapan sebagaimana kalian berbicara.” (HR. Bukhari-Muslim).

2. Berbicara dengan ungkapan yang simpel dan tidak mencari-cari bahasa yang tinggi, sehingga kalimat yang diucapkan tidak memiliki makna yang sulit atau tidak bisa dimengerti.
Khalil bin Ahmad -rahimahullah- pernah ditanya suatu masalah, beliau tidak segera menjawab. Maka penanya berkata, “Apakah pertanyaan ini tidak ada jawabannya dalam pandangan tadi?” Beliau berkata, “Anda sebenarnya telah mengetahui masalah yang Anda tanyakan berikut jawabannya, tetapi saya ingin memberi jawaban yang lebih mudah lagi Anda pahami.”

3. Tidak diulang-ulang kecuali untuk memberikan tekanan makna, karena “Sebaik-baik ucapan adalah yang singkat dan membawa arti, dan seburuk-buruk ucapan adalah yang panjang dan membosankan.”
Abdullah bin Mas’ud ra., memberi nasehat kepada masyarakatnya setiap hari Kamis. Ada seseorang yang berkata, “Wahai Abu Abdir Rahman, saya berharap engkau memberi nasehat kepada kami setiap hari.” Beliau berkata, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya yang menghalangiku untuk itu karena aku tidak suka membuat kalian bosan.” Selanjutnya ia berkata,
وَإِنيِّ أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةً السَّآمَةَ عَلَيْنَا . متفق عليه
Aku selalu memilih waktu untuk kalian dalam memberi nasehat, sebagaimana Nabi saw, memilih waktu untuk kami dalam memberi nasehat karena khawatir membuat jenuh atas kami. (Muttafaq ‘alaih)
Dari ‘Ammar bin Yasir ra berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ طُوْلَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيْلُوْا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوْا اْلخُطْبَةَ . رواه مسلم
Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khuthbah, merupakan bukti kemantapan pemahamannya. Maka panjangkan shalat dan pendekkan khutbah! (HR. Muslim)
4. Ucapan harus bagus, tidak kotor dan munkar (jahat).
Rasulullah saw, bersabda:
كُلُّ كَلاَمِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لاَ لَهُ إِلاَّ أَمْرًا بِمَعْرُوْفٍ وَنَهْيًا عَنْ مُنْكَرٍ وَذِكْرَ اللهِ .
Setiap ucapan anak Adam mencelakannya, bukan menguntungkan, kecuali perintah untuk kebaikan, mencegah kemungkaran, dan dzikrullah.
Agar ucapan kita selalu bagus dan menambah pahala kita dan tidak menambah dosa, maka kita harus menjaga hal-hal berikut:
a. Setiap pembicaraan kita agar selalu membawa unsur perintah shadaqah, atau berbuat baik, atau perdamaian bagi manusia. Allah ta’ala berfirman:
Tiada kebaikan dalam banyak pertemuan mereka, kecuali orang yang memerintahakan shadaqah, atau kebaikan, atau perdamaian bagi manusia. Dan barangsiapa melakukan hal itu untuk mencari ridha Allah, maka niscaya Kami memberinya pahala yang besar. (Surat An Nisa’: 114)
b. Meninggalkan pembicaraan yang bukan kepentingan kita untuk membicarakannya.
Rasulullah saw. bersabda,
ِمنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ . رواه الترمذي
Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah, ia tinggalkan sesuatu yang tidak ia ada kepentingan dengannya. (HR.Turmudzi)
c. Menjauhi ucapan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
Allah berfirman, Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu’. Dan orang-orang yang dari hal yang tidak berguna mereka selalu bepaling. (Surat Al-Mu’minun: 1-3).
Rasulullah saw. bersabda, Sungguh seorang hamba ketika mengucapkan suatu ucapan, tidak lain hanya untuk membuat orang lain tertawa, ia bisa jatuh di neraka lebih jauh antara langit dan bumi. (HR. Baihaqi)
d. Menyebar-luaskan salam.
Rasul saw bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ وَصِلوُا اْلأرْحَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوْا بِالَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا اْلجَنَّةَ بِسَلاَمٍ . رواه الترمذي
Wahai manusia sebar-luaskan salam, sambunglah silaturrahim, berikan makanan, dan shalatlah malam ketika manusia tertidur niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR Turmudzi)
e. Menahan diri dari ucapan jahat yang tidak membawa kemaslahatan.
Allah berfirman, Janganlah berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yng baik, kecuali dengan orang yang zhalim di antara mereka. (Al-Ankabut: 46)
Dalam hadits Aisyah ra. dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya sejahat-jahat manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang yang ditinggalkan masyarakatnya karena menghindari ucapan jahatnya. (HR Bukhari)
f. Bersabar dalam berdialog dengan orang-orang bodoh (jahil). Hal ini tidak berarti menerima kehinaan, akan tetapi bisa menahan diri di hadapan faktor-faktor yang memancing emosi dan mencegah diri dari marah, sukarela atau pun terpaksa.
Allah swt. berfirman, Dan hamba-hamba Allah yang Maha Rahman mereka itu berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Dan apabila diajak bicara oleh orang-orang yang bodoh (jahil) mereka berkata, ‘selamat.’ (Al Furqan : 63)
Dan Allah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun as, Pergilah kalian kepada Fir’aun sesungguhnya dia itu melampaui batas. Maka katakanlah kepadanya perkataan yang lembut.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa ketika Rasulullah saw. sedang duduk bersama para sahabatnya, ada seseorang mencaci Abu Bakar ra. dan menyakitinya, tetapi Abu Bakar tetap diam. Lalu ia menyakitinya yang kedua kali dan Abu Bakar pun tetap diam. Kemudian ia menyakitinya yang ketiga kali, maka Abu Bakar membela diri. Ketika itulah Rasulullah saw. bangkit meninggalkan majlis. Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau mendapati suatu dosa atas diriku, wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab, Ada malaikat turun dari langit mendustakan orang itu terhadap apa yang ia ucapkan kepadamu. Namun ketika kamu membela diri, setan pun datang, maka aku tidak mau duduk di sini ketika setan datang. (HR Abu Dawud).
g. Menjauhi perdebatan, baik dalam kebenaran maupun dalam kebatilan, karena hal itu akan menimbulkan keinginan mencari menang dalam diri akhi, dan lebih suka berapologi daripada menampakkan kebenaran..
Rasul saw bersabda,
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى ِإلاَّ أُوْتُوا اْلجَدَلَ . رواه الترمذي
Tidaklah suatu kaum tersesat setelah berpegang kepada kebenaran kecuali mereka diberi kegemaran berdebat. (HR Turmudzi).
Ibnu Majah dan Ahmad). Rasul saw bersabda, “Aku pemimpin sebuah rumah di dalam surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Dan aku pemimpin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bercanda. Dan aku pemimpin sebuah rumah di puncak surga bagi orang yang akhlaknya baik.” (HR Abu Dawud)
h. Menjauhi tempat-tempat kejahatan. Yaitu tempat dilakukannya kemungkaran atau dibicarakan di dalamnya ucapan yang menghina atau melecehkan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah swt. berfirman,
Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan yang lain. Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini) maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim sesudah teringat larangan itu. (Al-An’am: 68)
Dan Allah swt. berfirman, Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela. (Al Humazah: 1)
Rasulullah saw. bersabda,
لَيْسَ اْلمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلاَلَعَّانٍ وَلاَ فَاحِشٍ وَلاَ بَذِيْءٍ .
Tidaklah pantas seorang mukmin pencaci maki, pelaknat, suka berkata keji, dan suka berkata jorok.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada kata keji dalam sesuatu kecuali ia akan merusaknya. Dan tidaklah ada sifat malu dalam sesuatu melainkan ia akan menghiasinya.” (HR Turmudzi).

ADABUL ISTIMA’

1. Diam dan mendengarkan sehingga ucapan tidak bercampur baur dan sulit dipahami.
Allah berfirman,
Dan apabila dibacakan Al Qur’an maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian mendapatkan rahmat. (Al-A’raf : 204)
Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya di Haji Wada’, “Perintahkan manusia untuk tenang.” Kemudian beliau bersabda,
لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ . متفق عليه
Janganlah kalian kembali sesudahku menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher yang lain. (Muttafaq ‘alaih)
Dari Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah saw. memberi wasiat kepada Abu Dzar ra. Beliau saw. bersabda,
Hendaklah kamu berakhlaq mulia dan banyak diam, karena demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada perhiasan bagi seluruh makhluk yang serupa dengan keduanya. (HR. Ibnu Abid Dunya, Bazzar, Thabrani, dan Abu Ya’la)
Abdullah bin Mas’ud ra, berkata, “Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada sesuatu di atas bumi yang lebih perlu untuk ditahan lama selain lidah.” (Riwayat Turmudzi).
2. Tidak memenggal ucapan orang lain karena tergesa-gesa atau ingin menguasai kendali forum. Sehingga keinginan Rasulullah saw untuk segera menghafal Qur’an, dilarang oleh Allah dalam firman-Nya:
Dan jangalah kamu menggerakkan lidahmu untuk membaca Al Qur’an karena kamu hendak cepat-cepat menguasainya. (Al-Qiyamah: 16)
3. Menghadapkan wajah kepada pembicara dan tidak berpaling darinya atau membuat orang lain berpaling darinya, selama dalam rangka taat kepada Allah, meskipun ucapan kurang membawa daya tarik ataupun bahasanya kurang indah dan kurang lancar.
Rasulullah saw, bersabda:
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ اْلمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ . رواه مسلم
Janganlah kamu meremehkan suatu kebajikan, meskipun sekedar wajah berseri ketika engkau bertemu saudaramu. (HR. Muslim)
4. Tidak menampakkan sikap berbeda karena ucapan saudara kita, meskipun kita sudah lebih tahu, selama pembicara tidak bersalah dalam berbicara.
Rasulullah saw. pernah meminta Ibnu Mas’ud ra. untuk membacakan Al-Quran kepadanya, maka ia menjawab, “Aku membaca untuk Anda padahal ia turun kepada Anda?” Beliau menjawab, Aku sungguh senang mendengar Al-Quran itu dari orang lain.
Imam Ahmad bin Hambal pernah mendengarkan nasihat Al-Muhasibi, sampai beliau memperhatikannya dengan tenang dan akhirnya beliau menangis sampai basah jenggotnya.
5. Tidak menampakkan kepada para hadirin bahwa kamu adalah orang yang lebih ‘alim dibandingkan si pembicara, karena hal itu akan menyebabkan kamu bersikap sombong (takabbur).
Rasulullah saw. bersabda,
اَلْكِبْرُ بَطَرُ اْلحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ .
Kesombongan adalah sikap angkuh kepada kebenaran dan meremehkan orang lain.


Read More...

Marhalah - Marhalah Dakwah

Sudah wajib hukumnya kita sebagai yang merasa aktivis dakwah, mengenal tahapan - tahapan dalam berdakwah. Kita berusaha sungguh-sungguh di dalam lembaran kita ini untuk mengenali jalan dakwah dan ciri-cirinya yang istimewa dan tersendiri. Ini adalah untuk penyatuan kefahaman supaya kita tidak dicerai-beraikan oleh berbagai jalan. Juga supaya kita mendapat faedah dari pengalaman-pengalaman yang telah dilalui oleh jamaah Islam yang terdahulu dan kemudiannya dihidangkan pula dengan sempurna kepada generasi baru yang muda supaya mereka mengetahui jalan dakwah dan terus memikul tugas dan amanah itu supaya pendokong dakwah Islam bercantum semula lalu mereka bersatu padu, berganding bahu dan berjalan ke satu arah dan satu tujuan.

Setiap dakwah mestilah melalui tiga marhalah:
1. Marhalah ad-Di'ayah (at-Ta'rif): Marhalah propaganda, memperkenalkan, menggambarkan fikrah dan menyampaikan kepada orang ramai di setiap lapisan masyarakat.

2. Marhalah at-Takwin: Marhalah pembentukan, memilih para pendokong, menyiapkan angkatan tentera, pendakwah dan jihad erta mendidik mereka. Mereka dipilih dari golongan yang telah menyambut seruan dakwah.

3. Marhalah Tanfiz: Marhalah pelaksanaan, beramal, berusaha untuk mencapai tujuan.
Selalunya ketiga-tiga marhalah ini berjalan berseiring dan diselaraskan memandangkan bahwa kesatuan dan kekuatan dakwah adalah bergantung kepada percantuman di antara satu dengan seluruhnya. Oleh itu para pendokong dakwah di dalam berdakwah, mestilah memilih dan membentuk dan di waktu yang sama dia beramal dan melaksanakan apa yang boleh dilaksanakan.

Tidak mungkin lahir ke alam nyata satu marhalah dari marhalah-marhalah itu dalam bentuk yang sempurna kecuali menurut tertib susunan itu. Tidak mungkin sempurna pembentukan ini tanpa pengenalan makrifah dan pengenalan yang sahih dan benar.
Tidak mungkin lengkap satu pelaksanaan yang sempurna tanpa pembentukan dasar pendidikan yang sempurna.

Dakwah Islam yang pertama di zaman Rasulullah s.a.w. telah melalui tiga peringkat ini.

Muslimin di zaman itu telah mengenali agama mereka, terdidik dan terbentuk di madrasah Rasulullah lalu mereka bangun dan membangkit mendokong dakwah Islam dengan sebaik-baiknya.

Oleh kerana itu, kita diperingatkan supaya sentiasa berwaspada dari sudut jalan manakah seseorang itu menyeru dalam usaha-usaha dan kerja-kerja Islamnya. Adakah dia memberi perhatian dan memberikan hak kepada ketiga-tiga marhalah itu.

Sesungguhnya sesiapa yang tampil ke hadapan untuk melaksanakan tugas untuk dakwah dan merealisasikan cita-cita dakwah, dia mestilah mengetahui dengan sungguh-sungguh dakwah Islam. Mereka mengenali dan memahami dasar dengan pengenalan dan kefahaman yang sebenar-benarnya. Di samping itu dia mesti menjadi
contoh yang benar dan baik dalam setiap lapangan hidup.

Oleh kerana itu di sini kita akan coba membentangkan bagaimanakah bentuk marhalah atau peringkat-peringkat itu dengan penerangan yang lebih luas sedikit daripada yang lalu supaya anda lebih jelas tentang perkara ini.

- At-Ta’rif (Pengenalan) atau Membicarakan Dakwah:

Marhalah ini penting dan asas sebab ia merupakan langkah pertama di dalam perjalanan kita di atas jalan dakwah. Sebarang kesilapan atau penyelewengan yang dilakukan di dalam pengenalan, makrifah dan kefahaman ini akan membawa kepada natijah dan akibat yang buruk dan akan membawa dakwah terpesong jauh dari garisannya.

"Dan bahawa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka itulah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kerana segalajalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa". (Al-An'aam: 153)

Di zaman Rasulullah s.a.w. Islam telah disempurnakan perkembangannya dan penyampaian menurut bentuknya yang sahih dan benar, bersih dari segala campuran, kekurangan dan penyelewengan. Al-Amin Jibril membawa turun wahyu dari Allah kepada Al-Amin Muhammad s.a.w. lalu baginda menyampaikan Islam itu kepada manusia dengan amanah dan benar. Akhirnya sempurnalah agama itu menurut yang diyakini benar dan suci dari segala saduran.

Walaupun sepanjang sejarahnya ia sentiasa terdedah kepada pelbagai usaha, tipu daya dan gangguan yang cuba meruntuhkannya, menghapuskannya oleh musuh-musuh Islam atau berupa penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh pelampau-pelampau dari kalangan muslim sendiri, namun demikian Allah tetap memelihara KitabNya (Al-Quran) dan menjaminnya dengan begitu rapi.

Di samping itu ramai imam dan ulama yang mulia mengumpulkan hadis-hadis Rasulullah s.a.w. yang mulia dan menapisnya dari segala yang asing daripadanya. Demi memastikan kita sentiasa berjalan di atas jalan Rasulullah s.a.w. maka wajiblah kita kembali semula memahami Al-Quran, memahami Sunnah Rasulullah s.a.w dan memahami sirah salafussoleh atau angkatan muslimin pertama radhiallahu'anhum dengan menjauhi sungguhsungguh dari segala kesalahan, penyelewengan atau pun dari terpesong.

Inilah yang benar-benar dikehendaki oleh imam kita As-Syahid Hassan Al-Banna dan menjadikannya rukun pertama dalam rukun bai' ah. Malah beliau telah menulis untuknya dua puluh dasar sebagai garis panduan yang melingkungi fikrah ini untuk membersihkannya dari segala campuran dan saduran dan menjauhkannya dari segala perselisihan dan perpecahan.

Supaya fahaman ini menjadi penolong bagi mengumpulkan muslim di atas jalan dakwah, berusaha untuknya dan beramal baginya di dalam suasana tolong-menolong dan berganding bahu.

Iradah Allah telah menghendaki agar kefahaman (fikrah) di dalam jamaah Ikhwanul Muslimin ini terdedah kepada gangguan, ujian dan penapisan. Di tengah-tengah ujian ini terdapat pula kecuaian dan keterlaluan (ekstrim). Ada di antaranya yang berpendapat supaya Ikhwan menjauhkan diri dari arus pemerintahan dan politik demi memelihara diri dan dakwah dari sebarang akibat yang tidak diingini.

Ada pula di antaranya yang melampau dan keterlaluan lalu menganggap semua umat Islam yang tidak menyetujui fikrah mereka adalah kafir. Walau betapa kusut dan bercelarunya kefahaman sebahagian dari manusia namun demikian, Allah s.w.t. telah menyediakan Imam As-Syahid Al-Banna untuk dakwah Islam dan mengemukakannya kepada manusia dengan jelas dan terang serta murni.

Allah menyediakan untuk dakwah ini Imam Hassan Al-Hudhaibi rahimahullah dengan keistimewaannya yang tersendiri, dengan ketahanannya, dengan keteguhannya bersama kebenaran, lalu beliau menolak kecuaian dan keterlaluan itu.

Untuk itu beliau telah menerima berbagai-bagai gangguan dan kesusahan yang dasyhat. Tetapi, beliau bersungguh-sungguh memelihara amanah dakwah di dalam kefahaman sifat dan akhlak hinggalah dia mengadap Ilahi dan kemudian beliau menyerahkannya kepada pendokong dakwah yang lain tanpa perubahan dan penukaran, berdiri dan bertahan bersama-sama dengan Ikhwan.

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya)." (Al-Ahzab: 23)

Read More...

Jurang Di Internet


Kini media (baik cetak dan elektronik) menjadi salah satu alat para kafir laknatullah untuk menggapai visi misi mereka. Terlihat dari beberapa blog, baik yang di blogspot ataupun yang ada di wordpress, isi tulisannya adalah memojokkan kaum muslim dengan ajarannya. Kalaupun isinya tidak seperti itu berarti isinya adalah bagaimana para laknatullah itu seenaknya sendiri menafsir isi Al Qur'an.

Padahal, seperti yang kita tau, bila kita menafsir isi Al Qur'an, kita tidak bisa sendiri, setidaknya menjaga agar kita tidak menyalah artikan apa yang tertulis pada Al Qur'an. Orang amma' atau orang yang bisa di sebut orang yang jauh akan agama bisa terpeleset ke jurang yang sudah di rancang dengan begitu sempurnanya. Begitulah para laknatullah tersebut pandai membaca peluang yang ada. Kesalahan yang fatal juga terdapat pada kaum muslim yang mengiyakan artikel - artikel yang di posting mereka. Sehingga semakin sempurna sudah pengkafiran lewat internet. Yang paling riskan terjadi pada postingan - postingan di internet adalah para ustadz yang mengakui dirinya islam tetapi malah menghalalkan hal - hal yang sebenarnya sudah jelas haram hukumnya. Contohnya saja pacaran. Masih saja orang yang mengaku ustadz yang menghalalkan pacaran.
Selain itu bila anda sering browse youtube, akan banyak sekali muncul video - video yang berisi tentang bagaimana seorang muslim menjadi murtad karena katanya ia menemukan kebenaran. Di tambah lagi dengan judul postingnya yang menarik(Contoh: Guru Besar Al Azhar yang menemukan kebenaran di kristen). Sekali lagi, kaum muslim yang kesehariannya jauh dari agama, tidak pernah sholat dan ngaji, pasti akan segera membuka video tersebut dan mempercayainya. Padahal seperti yang kita tau itu adalah jebakan para laknatullah dan kaum kita pun terperangkap dalamnya.
Mari kaum muslim berhati - hatilah, karena musuh ALLAH tidak akan kenal lelah sampai apa yang di targetnya tercapai. Mari lebih berhati - hati dalam membaca atau memview video yang momojokkan islam yang ada di internet. Jangan langsung menilai hal - hal tersebut secara sepihak.Kembali pada Al Qur'an dan As Sunnah.

Read More...

Akhirnya Bangun Juga...

Wahh, udah lama gak blogging.. apa kabar para blogger? semoga kreatifitas kita untuk terus berkarya lewat tulisan di internet tak kenal lelah..



Read More...

Selasa, 28 April 2009

Perjuangan Dakwah

Meneruskan risalah perjuangan Nabi Muhammad SAW adalah sebuah pekerjaan yang mulia. Sebuah pekerjaan ini adalah pekerjaan yang akan menghasilkan investasi manis di akhirat. Dan jalan ini tak semudah dibayangkan. Banyak rintangan yang harus di lewati. Dan rintangan itu adalah sunatullah dalam berjuang menegakkan kalimatNya.

Sebuah pergerakan yang baik adalah pergerakkan yang di kerjakan secara amal jama’i. Karena dengan bergerak secara jama’i semua masalah yang datang, Insya Allah pasti terselesaikan. Masalah yang datang ke jalan dakwah ini sangat banyak sumbernya. Mulai dari para kapitalis yang menyadari betapa bahanya ke mereka kalau pergerakan ini terus berjalan sampai juga sampai mahluk ghaib yang paling laknat yaiu syaitan.
Program-program yang terbentuk dalam sebuah wajiah atau harokah – harokah pergerakan lainnya bervisi satu yaitu mendirikan Daulah Islamiyah. Walaupun terkadang dalam pembuatan sebuah program kerja ini terdapat selisih paham antar sesama aktivis dakwah. Yang memprihatinkan selisih pendapat antar aktivis ini sampai membuat rusak ukhuwah yang terjalin. Di sinilah letak kemenangan syaitan yang terkutuk. Ia berhasil membuat renggang ukhuwah anatar aktivis yang telah terjalin dengan baik. Bukannya terbentuk sebuah program kerja yang baik malah menghasilkan senuah kerusakan dalam wajiah itu sendiri.
Untuk itu tarbiyah untuk kader – kader dakwah adalah wajib hukumnya. Karena dari tarbiyah itulah terbentuk akhlak kader yang baik. Ambil contoh sebuah pergerakan pembebasan untuk bumi Palestina yang bernama HAMAS. Gerakan ini adalah sebuah pergerakan yang sangat mengutamakan Tarbiyah. Walaupun ada panggilan untuk berperang tetapi ketika waktunya untuk Halaqah, mereka akan mendahulukan Halaqah daripada perang tersebut. Dengan contoh ini, bisa kita lihat betapa pentingnya sebuah Halaqah dalam sebuah wajiah. Bagaimana seorang kader dakwah dapat menjadi seorang yang bisa ber amar ma’ruf nahi mungkar kalu mereka sendiri tak berilmu. Seperti yang pernah di katakan seorang penyair Arab, ”Bagaimana kita bisa memberi kalau kita tidak memiliki”.

Salah satu manhaj dakwah yang paling efektif dalam melakukan sebuah pergerakan pembaharuan masyarakat adalah dengan metode Dakwah Fardhiyah atau pendeketan individual. Karena dengan metode ini, seseorang yang di dakwahi bisa lebih menerima. Sebagai contoh, mereka melakukan sesuatu yang sudah jelas dalam Agama bahwa itu adalah salah. Dengan melakukan sebuah pendekatan ilmu atau Dakwah Fardhiyah pada tokoh kunci masyarakat, insyaAllah dengan metode seperti ini masyarakat yang lebih susah di dakwahi lebih bisa menerima karena orang yang selama ini mereka percayai beragama yang benar, telah mengakui bahwa apa yang mereka kerjakan selama ini salah. Untuk enyadari perbuatan yang salah sekolompok masyarakat bukanlah hal yang mudah, karena akan banyak rintangan yang akan di temukan di dalamnya. Hal yang akan paling sering di temukan dalam dakwah tengah masyarakat adalah penolakan. Karena ibadah - ibadah tambahan yang mereka lakukan yang tidak pernah di ajarkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah (baca: Bid’ah) adalah sudah menjadi suatu tradisi pada masyarakat yang akan sangat sulit di pisahkan dari mereka. Kaetika kita menyampaikan kepada mereka itu salah, mereka bakal menolak atau bahkan bakal bisa jadi marah, karena tradisi yang sudah di lakukan mereka sejak lama di katakana ibadah – ibadah yang mengada – ada dalam ISLAM. Itulah kenapa muncul sebuah metode yang disebut Dakwah Fardhiyah.
Telepas dari itu semua, pengembangan sebuah pergerakan dakwah harus tetap di laksanakan. Pengembangan di sini termasuk memper-shiqoh kinerja dari program - program dakwah yang di buat. Pengembangan ini harus di lakukan secara berkesinambungan. Agar pengembangan – pengembangan yang di lakukan bisa berjalan secara efektif. Efektif dari pengembangan program – program yang telah di buat adalah kesuksesan program dakwah yang di rancang. Dan kesuksesan – kesuksesan inilah yang akan mempercepat tegaknya Daulah Islamiyah. Impian tertinggi dari setiap yang memimpikannya. Di mana tegaknya Daulah Islamiyah yangakan menciptakan masyarakat madani. Masyarakat yang telah menerapkan syariat Islam dalam kesehariannya.


Read More...
©Copyright by: Izzat Q. Buchari